REVIEW - Sang Kiai

Sebuah film dengan tema Biografi memang sedang digandrungi oleh sineas Indonesia kali ini. Setelah Habibie & Ainun yang sukses secara kualitas serta kuantitas. Kali ini, rumah produksi Rapi Films mencoba mengangkat biografi dari seorang pendiri NU yaitu KH. Hasyim Asyari. Film ini ditangani oleh sutradara bernama Rako Prijanto yang sempat menangani film yang tak disangka-sangka memiliki kualitas yang baik yaitu Malaikat Tanpa Sayap. Sang Kiai pun dicoba ditangani olehnya. 


KH. Hasyim Asyari (Ikranegara) ditangkap oleh pemerintahan Jepang karena dianggap menantang mereka. Karena Jepang menyuruh masyarakat Indonesia untuk melakukan Sekerei (Hormat Kepada Matahari) yang jelas menentang aturan agama Islam. Akhirnya anak beliau terutama KH. Wahid Hasyim (Agus Kuncoro) mencoba mencari jalan agar dapat membebaskan Ayah nya yang ditawan oleh pemerintah Jepang dengan cara bernegosiasi dengan pemerintah Jepang. Sedangkan salah satu santri dari KH. Hasyim Asyari yaitu Harun (Adipati Dolken) mencoba untuk menghimpun para santri agar membebaskan Kiai-nya yang ditawan dengan berbagai pemberontakan dan kekerasan yang jelas lebih memakan korban jiwa.

Setelah upaya damai telah dicoba dan KH. Hasyim Asyari lepas, Beliau pun diangkat menjadi ketua Masyumi. Jepang pun memperalat Masyumi untuk mengumpulkan hasil bercocok tanam oleh rakyat Indonesia dan di lipatgandakan. Harun yang sudah tak tahan dengan keadaan seperti ini pun mencoba kabur dari Pesantren milik KH. Hasyim Asyari karena dia mengira KH. Hasyim Asyari membela para pejajah Jepang. 


Biopic about KH. Hasyim Asyari with pop storytelling.
Tokoh-tokoh sejarah memang mempunyai latar belakang yang cukup asik untuk di gali lebih dalam. Bagus bagi para Sineas Indonesia yang mau untuk mengembangkan cerita para Pahlawan yang membawa kemerdekaan bagi bangsa ini. Karena jelas akan menjadi sebuah Tribute kepada seorang Pahlawan itu sendiri serta menjelaskan kepada para seluruh masyarakat Indonesia tentang para pahlawan itu sendiri tanpa perlu membuka buku sejarah yang jelas tak menggugah minat masyarakat Indonesia. Maka bagus bagi para sineas yang mem-visualisasi-kan bagaimana sejarah negara Indonesia hingga akhirnya negara ini bisa mendapatkan kemerdekaannya. 

Kali ini, giliran biopic seorang Ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yaitu KH. Hasyim Asyari yang coba diangkat oleh Rako Prijanto di layar lebar. Seperti menyaingi film garapan Hanung Bramantyo, Sang Pencerah yang menceritakan tentang biopic seorang Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Dengan judul yang kebetulan hampir sama tetapi biopic milik pendiri Nahdlatul Ulama ini tak sepenuhnya fokus kepada KH. Hasyim Asyari. Karena di film ini juga menceritakan tentang kehidupan sekitar pesantren Tebu Ireng serta perjuangan bangsa Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan.

Film biopic dengan banyaknya unsur sejarah seperti ini mungkin akan jatuh ke dalam model penceritaan yang akan membosankan bagi sebagian orang. Seperti contoh yaitu Lincoln yang mungkin sedikit membosankan bagi sebagian orang. Tetapi, Sang Kiai mampu memberikan penjabaran cerita yang jelas bisa diterima oleh semua orang. Gaya ceritanya masih pop dan enjoyable dengan durasi sekitar 140 Menit dan gampang dicerna oleh semua orang. Tak perlu susah payah mencerna dan tak perlu khawatir akan mengalami kebosanan karena jelas unsur-unsur sejarah akan masuk ke dalam film ini dengan begitu kentalnya layaknya membuka kembali buku sejarah.

A Little bit messy storytelling in the middle part and in the end of this movie.
Kefokusan film ini yang tak melulu tentang KH. Hasyim Asyari sebagai pendiri Nahdlatul Ulama mungkin memiliki kekuatan lain. Sehingga tak kelewat membosankan dan memiliki slow-pace yang jelas belum bisa diterima oleh masyarakat pop sekarang. Sehingga memberikan porsi lain kepada karakter-karakter seperti Harun yang mempunyai screening time lebih banyak dan memberikan subplot cerita tentang dirinya dan kehidupannya yang cukup banyak. Sehingga tak melulu menceritakan tentang sejarah. Love story pun tetap menghiasi cerita di film ini. Love story antara Harun dan Sarinah yang cukup menghangatkan film ini.

Tetapi sayangnya tak ada satu kefokusan film yang begitu jelas membuat film ini melemah. Terutama dalam pertengahan film yang jelas sama sekali kurang menyorot tentang KH. Hasyim Asyari sebagai jualan utama film ini. Sehingga film ini terasa segmented tak punya cerita utuh. Paruh kedua film ini yang jelas lebih fokus ke sosok Harun dan himself conflict nya mungkin memang punya arti sendiri. Tetapi, penceritaan yang tiba-tiba sedikit goyah karena tiba-tiba fokus cerita pun berubah dan mempunyai sudut pandang yang semakin melebar dan tidak tertangani dengan baik. Dan jelas membuat film yang seharusnya menjadi Biopic dari KH. Hasyim Asyari ini malah membuat karakter ini sendiri menjadi blur di film ini. Serta ending yang  kurang memberikan performa baiknya. Sehingga berbagai penjelasan yang dijelaskan lewat tulisan itu seperti kurang memberikan kekuatannya sehingga tak memberikan penutup yang bagus.


Dan konflik dari karakter Harun lah yang membuat naskah dari Anggoro Saronto ini mempunyai penceritaan yang mudah dicerna. Tetapi naskahnya sedikit lemah. Karena tetap berbagai keakuratan sejarah dan ceritanya yang cukup padat meskipun masih kurang rapi membuat film ini kuat di berbagai sisi. Dengan dialog-dialog yang juga penuh metafora serta filosofis di beberapa bagian semakin memperindah film ini. Dialog-dialog itu pun tak kelewat berlebihan dalam penyampaiannya. Belum lagi dialog-dialog nya yang menyiratkan berbagai informasi sejarah yang jelas akan menjadi sebuah informasi sendiri bagi masyarakat Indonesia yang lemah terhadap sejarah negerinya sendiri.

Taste nasionalisme pun tetap diusung oleh film ini dan tentunya unsur relijius yang juga tetap menjadi jualan utama film ini. Kedua unsur itu pun bisa dipadupadankan dengan bagus. Sehingga momen nasionalisme dan relijius itu tetap disajikan dengan bagus dan memberikan efek merinding lain karena paduan yang cukup bagus itu. Berbagai scene terasa kuat terutama adegan yang memperlihatkan bagaimana Bung Tomo memberikan semangat yang berkobar-berkobar dalam pidato nya kepada Arek-Arek Suroboyo untuk melawan penjajah belanda yang kembali datang ke Indonesia dalam melakukan Agresi Militer nya.


Satu hal yang patut diacungi jempol di film ini. Production values yang begitu indah dan memperkuat isi ceritanya sendiri. Berbagai detail Production values yang digarap apik oleh Frank X.R. Paat jelas membuat saya terpanah. Bagaimana set kota Jombang dan pesantren Tebu Ireng yang di set begitu indah pas dengan setting tahunnya sendiri. Setting kota di zaman penjajahan pun tergambarkan detail. Belum lagi pemandangan-pemandangan saat perang terjadi. Puing-puing bangunan yang porak poranda, lalu korban-korban berjatuhan dengan berbagai ledakan sana-sini yang jelas memanjakan mata penontonnya. Sayang, penggunaan CGI yang jelas masih kurang halus memberikan kesan minor. Tetapi, usaha mereka tetap harus di acungi jempol dalam memberikan production values yang jelas tidak main-main.

Satu hal lagi yang perlu diacungi jempol. Pemilihan cast di film ini yang jelas menjadi hal yang paling crucial bagi film ini. Jelas tepat sekali jika Ikranegara di dapuk memerankan KH. Hasyim Asyari. Karakterisasi-nya sangat bagus. Beliau mampu bermain dengan begitu baiknya dengan dukungan serta chemistry yang juga dijalin begitu baik dengan Christine Hakim yang memerankan karakter Nyai Kapu yang tak perlu diragukan lagi akting beliau. Lalu, akting Adipati Dolken yang bisa dikatakan cukup berkembang dalam memerankan karakter Harun. Serta nama-nama besar seperti Agus Kuncoro, Arswendi Nasution, Dimas Aditya yang jelas menjadi pendukung film ini. Meskipun screening time mereka bisa dibilang cukup sedikit. Serta scoringnya yang cukup megah dengan penempatan yang pas di film ini sehingga tak memiliki kesan overused. Lalu, soundtrack film ini yang dinyanyikan oleh Band Ungu dengan penempatan yang bisa dibilang sudah pas dengan penempatan momennya. Tetapi, munculnya yang tiba-tiba sehingga masih terdengar aneh.

SK1

Overall, Sang Kiai still worth to watch in Cinema. Story about leader of Nahdlatut Ulama even the Focused not only at him. Big point of view make this movie has a little bit messy in storytelling and it doesn't has a powerful ending. But, another big point on Production Values totally impressed me. Very detail production values from Frank X.R. Paat really makes this movie has another power. Also, a good choice with the casts. it has good actors and actresses.

Subscribe to receive free email updates: