REVIEW - White House Down

Roland Emmerich, Sutradara satu ini sering membawakan film tentang apocalypse. Contohnya Independence Day, The Day After Tomorrow, ataupun 2012. Toh tak ada satupun dari film-film yang saya sebutkan tadi menuai banyak pujian dari kritikus. 2012 pun hanya menopang popularitas dari sebuah rumor yang beredar bahwa kiamat akan jatuh di tahun itu. Kali ini, Emmerich mencoba untuk membuat film dengan genre action yaitu White House Down.


John Cale (Channing Tatum), seorang mantan marinir yang pernah tugas ke Afganistan. Dia sekarang menjadi seorang polisi dan mencoba melamar untuk menjadi seorang agen di Dinas Rahasia kepresidenan.  Dia pun bercerai dengan istrinya dan memiliki seorang anak bernama Emily (Joey King). Saat itu, John mencoba untuk mengajak Emily tour ke Istana Presiden Amerika atau White House. 

Saat melakukan tour, terdapat sebuah kejadian tak terduga. White House diledakkan dan diserang oleh sekelompok orang yang akan balas dendam terhadap sang Presiden, James W. Sawyer (Jamie Foxx). Orang yang balas dendam itu adalah seorang pengawal presiden yang akan purna tugas bernama Walker (John Woods)

Another version of Olympus Has Fallen. Long duration for this simple script totally not works well.
Sekali lagi monumen berharga milik Amerika dihancurkan oleh sineas hollywood lewat film-filmnya. Roland Emmerich sepertinya juga sering bisa dibilang doyan menghancurkan monumen-monumen penting milik amerika lewat film-filmnya. Ingat patung Liberty yang di hancurkan lewat film 2012 atau The Day After Tomorrow? Atau White House di film Independence Day. Kali ini pun sepertinya White House sekali lagi di eksploitasi melalui berbagai ledakan di film White House Down yang di sutradarai juga oleh Roland Emmerich

Track record Roland Emmerich selaku sutradara ini dibilang tak memiliki karya yang signifikan. Hasil film-filmnya pun tak memiliki sebuah kualitas yang diatas rata-rata. Kebanyakan malah gagal di unsur plot cerita. Sebut saja film yang katanya mengusung tema apocalypse 2012. Tak memiliki cerita yang bagus. Isinya hanya sebuah surviving konyol yang jatuhnya malah mirip sebuah film berjudul Poseidon. The Day After Tomorrow pun juga kurang tersaji dengan bagus. Apalagi 10.000 B.C. yang lambatnya setengah mati dan tak bisa dinikmati. 

Jadi, saya pun tak sebegitu ceria jika melihat Emmerich mencoba untuk membuat sebuah film aksi dengan memporakporandakan tempat tinggal presiden ini. Terlebih lagi, baru saja kita di sapa oleh Antoine Fuqua lewat film Olympus Has Fallen yang juga memiliki plot cerita yang sama dengan apa yang diusung oleh White House Down kali ini. Inilah yang menarik bagi saya. Mencoba untuk membandingkan White House Down dengan Olympus Has Fallen meskipun menggunakan Presiden dengan kulit yang berbeda. 


White House Down hanyalah kamuflase dari Olympus Has Fallen. Yap. Semua ceritanya hampir sama. Beberapa hal mungkin akan berbeda. Tapi, maksud dan beberapa intriknya jelas hampir keseluruhan sama. Tapi tak apa lah, film aksi lainnya juga banyak mengusung cerita yang sama dengan dua film ini. Tapi hanya saja rilisnya tak bersamaan seperti ini. Tapi, saya pribadi lebih menyukai Olympus Has Fallen ketimbang White House Down. 

Untuk cerita se-simple ini, rasanya White House Down terlalu bertele-tele dalam penyampaiannya. Durasinya terlalu panjang untuk sebuah misi menyelamatkan presiden dari serangan di White House. Akhirnya beberapa cerita pun membuat saya jenuh untuk menyaksikan film ini. Sebenarnya cerita yang membuat jenuh malah bukan terletak pada human drama-nya. Cerita yang melelahkan itu pun terletak pada ganjaran aksinya yang terlalu banyak dan malah terkesan ditambah-tambahi untuk menambahkan durasi. 

 Blame the Script. Much stupidity inside it. 
Entah, banyak hal yang setidaknya menganggu saya untuk setidaknya diam dan menikmati apa yang tersaji di layar saat menyaksikan White House Down. Tak ada yang salah saat Emmerich mencoba meng-interpretasikan naskah yang ditulis oleh James Vanderbilt di film White House Down. Malah, boleh di bilang kita harus menyalahkan naskah yang dibuat. Banyak sekali hal-hal yang sangat menganggu saya di film ini. 

Jika bisa dibilang mungkin akan sedikit melecehkan berbagai karakter di film ini. Oke. Saya mengingkan film Aksi. Mungkin dengan beberapa joke yang setidaknya untuk membuat saraf kita mengendur karena ketegangan yang tersaji di film aksi. Tapi, film White House Down pun jatuhnya malah menjadi sebuah film komedi yang menganggu berbagai keseriusan film ini. Bisa kan, kita membedakan mana film Aksi dan Aksi Komedi. 


Film ini pun jatuhnya malah seperti film Buddy-cop dengan unsur komedi. Mengingatkan saya pada film 21 Jump Street atau Hot Fuzz ataupun film aksi dengan bumbu komedi lainnya. Well, Jelas ini sedikit keterlaluan. Mengingat film ini pun bergenre Action. Pure Action. Joke-nya pun berlebihan. Mungkin bisa dibilang agak dibuat-buat. Bahkan karakterisasi di film ini rasanya komikal. Semuanya terasa aneh. Saya tidak berharap sebuah drama aksi yang mengusung beberapa unsur politik yang serius. Tidak sama sekali. 

Saya pun juga ingin menikmati sebuah sajian film action yang sekedar turn-off your brain and enjoy. Tanpa terganggu dengan bayang-bayang sebuah kekonyolan yang malah terkesan menganggu dan malah membangunkan macan dari tidurnya. Olympus Has Fallen toh akhirnya bisa melaksanakan tugasnya itu untuk saya. Sajian aksi yang tanpa perlu berpikir panjang dan tanpa unsur politik di dalamnya. Saya pun dibuat enjoy oleh beberapa adegan aksi yang menegangkan miliknya. Saya terhibur. 


Berbeda dengan White House Down yang malah membangunkan kinerja otak saya dan sempat menggumam "Apa-apaan ini?" saat film ini berlangsung. Berbagai karakterisasi konyol terutama kepada sesosok Presiden. Tak ada wibawanya sama sekali. Bahkan karakter villainnya pun terlihat konyol dan bodoh. Mereka pun terlihat sekali hanya sebuah bawahan yang menurut saja apa kata atasannya tanpa alasan apapun. Jika itu terjadi disebuh film Komedi Aksi, Saya jelas tidak akan mempermasalahkannya. Tapi ini terjadi di sebuah film aksi murni. Jelas bermasalah.

Beruntunglah. Emmerich setidaknya tetap menyajikan sebuah film aksi yang non-stop. Totalitas sekali dalam mengerjakan adegan aksi meskipun tetap beberapa terasa konyol terutama adegan kejar-kejaran di dalam Istana Presiden dengan mobil itu. Full CGI, ledakan, dan apapun itu yang sangat tipikal dan khas blockbuster movies. Yap. Inilah kekuatan Emmerich dari dulu. Penggunaaan Visual Effect yang tak main-main kalau boleh saya bilang. Meskipun White House tak seberapa dihancurkan seperti Olympus Has Fallen. Dan sekali lagi penggunaan Rating PG-13 yang jelas membuat film ini minim darah. Meskipun adegan tembak-tembakan banyak digunakan di film ini. 


Dari segi cast, Channing Tatum mampu menggunakan starlight-nya untuk menjadi sesosok Ayah yang heroik. Tatum sekali lagi mencuri perhatian penontonnya disini terutama para wanita yang sudah excited terlebih dahulu. Jamie Foxx? Meh. Saya tidak suka perannya disini. Tak ada kesan wibawa sama sekali saat dia menjadi sesosok Presiden Berkulit Hitam. Ah. Dia terlihat bodoh. Tidak intelek. Konyol. Menggelikan. Dan apapun itu. Maggie Gyllenhaal ini yang malah terlihat wibawa. Dia mampu menjadi sesosok Wanita yang tangguh di film ini. Joey King juga selalu jadi sweetheart di film-filmnya. Tak terkecuali di film ini.


Overall, Beside it stupidity and ridiculous script. White House Down still a blockbuster movies which 'boom boom bang' elements still exist in this movie. Another version of Olympus Has Fallen. But, I like Olympus Has Fallen then this one. Turn off your brain into the lowest level. This one gonna be all peoples favorite. Its fun ride this roller coaster. But, I still feel ridiculous.

Subscribe to receive free email updates: