REVIEW - Refrain

Diangkat dari sebuah novel karangan Winna Efendi, Refrain. Digawangi oleh Sutradara yang telah menyapa kita lewat film terbarunya Cinta Brontosaurus, Fajar Nugros. Novelnya yang bestseller ini pun diangkat ke sebuah film layar lebar. Dengan pemain-pemain yang jelas akan jadi idola para Remaja Indonesia, Maudy Ayunda dan penyanyi terkenal Afgansyah Reza. 


Nata (Afgansyah Reza) dan Niki (Maudy Ayunda) sudah bersahabat sejak kecil. Mereka pun selalu bersama. Satu sekolah dan berangkat ke sekolah pun bersama-sama. Di Sekolah, mereka mempunyai teman baru yaitu Anna (Chelsea Islan). Anna adalah anak pindahan. Mereka bertiga pun berteman. Hingga suatu saat, Nata menyimpan rasa kepada Niki. Dia mencoba mengatakan semuanya kepada Niki tetapi dia tidak berani.

Niki pun akhirnya berpacaran dengan Oliver (Maxime Bouttier). Nata jelas terpukul dengan berita itu. Anna ternyata diam-diam menyukai Nata. Persahabatan mereka pun rusak. Setelah Lulus SMA, Nata pun melanjutkan studi-nya ke Austria dan meninggalkan Niki. 
 
Cheesy love triangle which totally teenagers will love the most.
Bicara tentang Drama Teen-flick romance. Rasanya, sineas Indonesia belum pernah memberikan sebuah sajian romance remaja yang sekiranya akan se-hits dan se-epic Ada Apa Dengan Cinta. Di tahun lalu, ada Dwilogi Perahu Kertas yang nyatanya masih bisa dibilang melempem di beberapa bagian terutama bagian kedua dari film itu. Nyatanya masih jarang drama remaja yang bakal memuaskan. 

Kali ini, Fajar Nugros yang telah menyapa kita beberapa bulan lalu lewat film Cinta Brontosaurus. Pun mengangkat sebuah cerita cinta remaja dari sebuah novel Best-seller yang sudah menggema di kalangan remaja saat ini. Refrain. yap, sebuah judul yang mudah diingat dengan tagline "Ketika Cinta Selalu Pulang" di cover depan novelnya. Jelas ini akan menjadi sebuah film yang akan dinanti-nantikan oleh para remaja. 

If you want to expect more from this movie? Totally dont. Refrain jelas hanya mengangkat sebuah cerita cinta sederhana. Cenderung cheesy malah. Sebuah cerita cinta segitiga yang memang sangat tidak fresh dan pernah dibawakan oleh beberapa film remaja lainnya. Terlihat sekali, sebuah cerita yang predictable yang notabene akan disukai oleh para remaja. Bidikan pasar yang memang untuk remaja akan sangat berhasil. Yap. Cerita cinta menye-menye meskipun tak ada salah satu dari karakternya yang akan mati karena sakit. 

 

Awal film ini pun dibawakan dengan cukup bagus. Karakter-karakternya juga di perkenalkan dengan berbagai pendekatan yang mungkin thought-provoking. Paruh awal film ini sukses mengantarkan saya menikmati benar apa yang tersaji di hadapan layar. Hingga akhirnya sebuah penyakit yang di idap oleh film drama cinta remaja pun terselip ditengah-tengah saya saat sedang asyik menikmati indahnya cinta remaja SMA Nata dan Niki. 

Yap. Apalagi kalau bukan dialog cheesy yang penuh dengan gombalan-gombalan yang failed. Terkesan agak disgusting dan yah, not smart at all. Dialog-dialog cinta yang sepertinya dibawakan dengan begitu canggung oleh para pemainnya mungkin. Hasilnya, beberapa moment yang maunya dibikin sweet akhirnya terkesan failed. Dialog-dialog sok puitis itu pun gagal. Hingga akhirnya saya cuma bisa mengangguk dan mengingat "Ini adalah film drama remaja dengan cerita predictable. Jangan berharap lebih." 

 If you dare to love, go tell her. 
Cerita yang juga harusnya sudah lumayan bagus dibangun diawal pun. Di paruh akhir filmnya, film sedikit melambat hanya untuk dipaksakan untuk menambah durasi. Istilahnya, kita sudah cukup kenyang dengan sebuah makanan tetapi kita disuruh makan lagi. Ceritanya jadi begitu bertele-tele. Menjemukan malah. Saya pun sudah mulai kualahan dengan cerita yang sedikit disesal-sesalkan untuk menambahi durasi film ini. 

Karakter-karakter di film ini pun terasa komikal. Nata, Niki, Anna, Oliver, ataupun 3 gadis cheerleader yang jahat itu. Yap. Semuanya terasa pernah kita temui di beberapa film remaja lainnya. Terutama karakter Oliver yang sepertinya digambarkan atau mungkin diperankan terlalu ke kanak-kanakan dan terlihat asyik sendiri di film ini. 

Dan entah kenapa, saya bisa merasakan momen-momen yang akan terjadi selanjutnya di film ini dan memang terjadi di filmnya. Momen-momennya cliche. Sering di usung di FTV yang sering ditayangkan di stasiun televisi swasta dengan adegan klimaks yang juga kurang dibawakan dengan baik. Kurang bertenaga. 


"Kalau berani sayang, berani bilang. Kalau Cinta itu jangan setengah setengah"
Setelah memaksa agar menghiraukan berbagai dialognya yang kelewat cheesy ini. Setidaknya saya menikmati apa yang sudah tersaji oleh film ini selama 90 menit durasinya. Meskipun beberapa moment di film ini tetap saja terlalu manis hingga akhirnya failed. Saya masih remaja, jadi tak ada salahnya kan bisa menikmati film ini. Dan film ini pun adalah bentuk curahan hati dari kisah cinta remaja di dunia nyata. 

Jelas ini akan menjadi favorit para remaja. Cerita cinta yang belum diungkapkan. Cinta diam-diam yang juga sering dialami oleh remaja manapun. Akan menjadi sebuah tamparan besar bagi kalian para remaja yang pernah mengalami hal yang sama dengan film ini. Mencintai sahabat sendiri mungkin. Atau suka sama seseorang tapi tidak berani untuk mengatakan. Jangan salahkan bagi kalian yang pernah merasakan hal seperti ini. Ini akan menjadi sebuah cerminan sekaligus tamparan bagi kalian bahwa "Kalau Cinta Jangan Setengah Setengah" sesuai dengan tagline dari poster film ini. 

Beberapa hal masih disayangkan di bagian teknis film ini. Saya cukup terganggu dengan ratio 1:85:1 yang masih di bikin widescreen. Hingga akhirnya ukuran layar jadi semakin kecil. Padahal, beberapa tempat sudah di shoot dengan sinematografi yang cukup bagus. Beberapa scene-nya masih indah. Tetapi, ketika setting tempat berubah ke Austria. Pengambilan gambar dengan kamera yang kurang cocok. Hingga akhirnya gambar video menjadi pixelate dan tidak jernih. Sayang sekali, keindahan kota Vienna, Austria pun tak terambil dengan bagus. Padahal seharusnya berbagai sudutnya cukup indah. Entah kamera apa yang digunakan saya belum cukup paham. 


Tetapi, berbagai scoring film ini cukup mengasyikkan untuk didengarkan. Meskipun beberapa masih musiknya juga masih overused di beberapa bagian. Begitu pula dengan soundtracks yang beberapa di ambil dari lagu milik Afgan seperti Pesan Cinta dan Sabar. Dan ada pula lagu baru yang dinyanyikan oleh Maudy Ayunda yaitu Cinta Datang Terlambat yang juga dipasangkan pas dengan momennya di film ini. 

Cast film ini pun sepertinya beberapa masih menggunakan nama baru dalam dunia akting. Seperti Chelsea Islan yang berperan sebagai Anna yang cukup manis dan berperan sesuai karakternya. Pendiam dan tenang. Maudy Ayunda sebagai Niki seperti biasa tampil cukup menawan. Parasnya cantiknya cukup membuat saya betah di tempat duduk. Afgan pun masih berperan cukup kaku. Dia masih berusaha berperan sebagai Nata yang cuek dan jutek. Tapi, beberapa gimmick akting Afgan masih kaku.


Overall, Refrain is just a movie about cheesy love triangle. Every moment, every part, still has a cliche like TV Movie did. But, what you expect from this movie? of course this movie will gonna be teenagers sweetheart movie. This movie will express teenagers feeling about "On My Own Love". Dare to love someone? Go Tell and Show it. Before you gonna hurt the most.

Subscribe to receive free email updates: