REVIEW - KICK ASS 2

Kick Ass adalah sesosok superhero yang diangkat dari sebuah komik. Filmnya yang pertama sukses dipuji oleh kritikus. Maka tak salah, jika Kick Ass akan berkelanjutan hingga seri kedua. Kali ini, Kick Ass diasuh oleh Universal Pictures. Maka, Kick Ass 2 di pimpin oleh Jeff Wadlow sebagai sutradara menggeser Matthew Vaughn yang sebelumnya menangani Kick Ass seri pertama. 
 

Setelah beberapa tahun, Dave Lizewski atau Kick Ass (Aaron Taylor Johnson) vakum dari dunia superhero. Karena sudah banyak sekali, penduduk bertopeng yang ingin memerangi kejahatan layaknya Kick Ass. Maka dari itu, Dave Lizewski pun ingin kembali ke dunia itu. Mindy MacReady atau The Hit Girl (Chloe Grace Moretz) pun di ajak oleh Dave untuk bekerja sama memerangi kejahatan. Sayangnya, Mindy harus berjanji agar tidak lagi terjun ke dunia itu karena ayahnya.

Chris D’Amico atau Red Mist (Christopher Mintz-Plasse) pun ingin balas dendam kepada Kick Ass yang lebih terkenal daripada dia. Dia juga ingin balas dendam dengan apa yang Kick Ass lakukan terhadap ayahnya. Maka, Chris D’Amico merubah dirinya sebagai The Motherfucker dan membentuk liga kejahatan untuk menangkap dan membunuh Kick Ass. 

Rollercoaster full of fun and bloody entertaining.
Kick Ass adalah sosok superhero tanpa kekuatan khusus yang memerangi kejahatan. Kick Ass sendiri di angkat dari sebuah komik. Di Film pertamanya, Matthew Vaughn mampu memperkenalkan Kick Ass dengan baik. Sehingga, banyak fans-fans baru untuk Kick Ass dari film. Maka, Kick Ass pun menjadi di gandrungi. Maka jelas, Kick Ass pun akan diangkat di seri berikutnya mengingat kesuksesan dari seri pertamanya sendiri.

Kick Ass memang tak hits di Box Office. Tapi untuk penjualan Home Video, Kick Ass sangat di gemari. Kick Ass seri pertama memiliki kualitas yang bagus serta mendapat pujian dari kritikus. Sayangnya, di seri kedua Matthew Vaughn tak kembali menangani film ini. Jeff Wadlow pun ditunjuk untuk menangani seri kedua dari Kick Ass. Jika dilihat dari track record sutradaranya sendiri, mungkin Jeff Wadlow memiliki track record buruk bagi filmnya.

Kick Ass 2 mungkin tak memiliki cerita sebagus dan se-solid seri pertamanya. Cerita yang diusung oleh Kick Ass seri kedua ini lebih simple dengan berbagai tribute unik yang ditampilkan di film ini. Jika seri pertama lebih ke sosok Dave Lizewski dan berbagai aksi heroik dari dirinya. Maka seri kedua, mungkin lebih ke sosok Hit Girl dan polemik kehidupannya. Dan inilah, yang mungkin menjadi penikmat Kick Ass pun terbelah. Ada yang tetap menyukai film serta ada yang malah kecewa dengan film ini. Tapi sayangnya, saya masuk ke dalam kategori yang tetap menyukai sekuel dari Kick Ass


Meskipun cerita yang diusung lebih simple,toh Kick Ass 2 masih memiliki adegan aksi yang masih fun dengan berbagai adegan gore dan gila-gilaan yang sangat entertaining bagi saya. Menceritakan tentang Mindy atau Hit Girl dengan kehidupan remajanya. Dimana dia sudah mulai menyukai cowok-cowok cakep dan berbagai konflik-konflik remajanya. Inilah berbagai kesederhanaan dari plot film ini. Tapi, tak lupa Kick Ass 2 juga masih memberikan konflik yang lain kepada Kick Ass sendiri. Berbagai konflik Revenge antara Red Mist atau The Motherfucker kepada Kick Ass sendiri.

Tapi sayangnya, mengingat film ini harusnya menjadi film milik Kick Ass malah memiliki porsi besar kepada Hit Girl. But, its not a big deal. Jangan harapkan cerita terobosan baru yang di hadirkan layaknya seri pertama dari film ini. Karena, banyak cerita sederhana yang akhirnya malah mungkin akan terasa cheesy but for me its classy. Tribute dari beberapa film menurut saya yaitu Mean Girls. Cerita drama cewek yang cheesy di padu padankan dengan aksi beringan milik Hit Girl menjadi suatu hal yang menarik yang membuat saya sangat menikmati film ini. 

 

Mungkin banyak sekali karakter-karakter baru yang masuk di sekuel film ini. Hingga akhirnya, film ini terlalu penuh sesak dengan karakter-karakter tambahan yang tak berperan begitu signifikan untuk film ini sendiri. Jadi, Jeff Wadlow terlihat bingung bagaimana cara menyelipkan semua back story dari setiap karakternya. Tapi, beberapa cerita singkat yang cukup efektif cukup bisa menjawab berbagai back story dari berbagai karakter di film ini.

Pace cerita mungkin tak terjaga ketika film ini menuju akhir. Akhirnya dengan durasi sekitar 115 menit, Jeff Wadlow ingin semua ceritanya berakhir. Bagaimana final fight yang malah terkesan kurang garang, ketimbang middle fight yang ada di film ini. Tensi mulai menurun, dengan final fight yang terkesan anti klimaks dalam presentasinya. Kick Ass 2 memang tak sebagus Kick Ass pertama. Tapi, Kick Ass 2 tetap memiliki gory scene cukup yang akan membuat para fanboy orgasm

Stop action movie with makes me not caring about the story and the rottentomatoes rating.
Dan ketika semua keburukan muncul, toh pastinya ada kelebihan lain. Kick Ass 2 tetap lovable bagi saya. Dengan banyak stop action movie yang sangat classy yang membuat saya betah dengan berbagai sajian yang memiliki banyak kekurangan ini. Banyak sekali adegan-adegan gokil dari film ini yang membuat saya bisa tertawa lepas seperti melupakan berbagai beban dari pikiran saya. Yah, sekali lagi adegan sadis membuat saya tertawa terbahak-bahak.

Memiliki kekurangan dari segi cerita, tak lantas membuat Jeff Wadlow tak memikirkan daya tarik lain untuk film sekuel ini. Maka dari itu, Jeff Wadlow memberikan sesuatu yang seimbang untuk sisi lain dari film ini. Adegan-adegan gokil seperti fighting di jalan yang mengasyikkan. Ketika Liga Kejahatan milik The Motherfucker mulai menyerang para polisi, itu adalah salah satu scene paling gokil di film Kick Ass 2 ini. Menyenangkan. Layaknya menghirup udara segar. 


Kritikus boleh tak suka dengan film ini. Mungkin mereka menggunakan kacamata yang berbeda untuk film ini. Menganggap serius. Tapi, saya begitu menyukai Kick Ass 2. Maka dari itu, saya masih tak seberapa percaya dengan rating-rating yang ada di website rottentomatoes. Toh, terkadang mereka menganggap sebuah film terlalu serius ketimbang sebagai media hiburan. Dan Kick Ass 2 adalah salah satu korban keseriusan mereka.

Segi cast, Chloe Grace Moretz jelas mencuri perhatian saya dari awal. Semakin dewasa, dia semakin cantik. Tak seperti Abigail Breslin. Dia juga semakin gokil dalam memerankan karakter Hit Girl di film ini. Karakter badass dengan gampang dia lakoni. Aaron Johnson Taylor juga terlihat makin matang. Dan, yah, perubahan badannya semakin berisi. Tidak seperti di film pertamanya. Christopher Mintz Plesse juga mampu menjadi karakter anak mama yang tidak patuh dengan baik. 


Serta cast-cast pendukung yang juga menjadi pemanis lainnya. Layaknya Jim Carrey yang butuh kesadaran cukup, baru kita tahu bahwa karakter yang dimainkan adalah dirinya. Serta pemeran wanita yang memerankan Mother Russia. Belum lagi jalinan soundtrack yang mungkin tak se-asyik yang pertama. Tapi ketika lagu When My Saints Goes Marching In diputar dengan scene yang begitu gokil. Inilah yang disebut fanboy orgasm. 


Overall, Kick Ass 2 memang belum sebagus dari predecessor-nya. Tapi, dibalik semua kekurangannya. Kick Ass 2 masih mampu memberikan sebuah jalinan cerita epik yang membuat saya terpanah. Hiraukan rating di rottentomatoes dan berbagai sudut pandang kritikus yang menjatuhkan film ini. Karena, Kick Ass 2 masih mempunyai kegokilan luar biasa yang bisa dinikmati.

PS : Dont walked out from theatre. Wait until credit title done. 

Subscribe to receive free email updates: