REVIEW - RUNNER RUNNER

Brad Furman, Sutradara yang memiliki kiprah yang cukup bagus di filmnya. Maka, kesempatan kali ini dia akan mengarahkan beberapa bintang besar yaitu Justin Timberlake, Ben Affleck, serta Gemma Arterton di film terbarunya berjudul Runner Runner. Film ini rilis seminggu lebih awal di Indonesia.


Richie Furst (Justin Timberlake) adalah seorang mahasiswa dari sebuah universitas yang sedang bertahan hidup melalui sebuah situs judi online. Hingga suatu ketika, seseorang melakukan kecurangan kepadanya saat bermain judi online. Dia pun nekat menemui Ivan Block (Ben Affleck) di Costa Rica untuk mengatakan padanya tentang kecurangan di situs milik Ivan tersebut.

Tapi, pertemuan dengannya malah menjadi kontrak panjang. Dia pun di pekerjakan oleh Ivan. Tapi, nyawa dia malah terancam. Dia masuk ke dalam permainan-permainan Ivan yang berbahaya dan kotor. Ivan sendiri adalah seorang buronan FBI. 

How’s Furman too cocky to make this movie smarter.
Brad Furman, mungkin bukan nama yang terkenal. Kiprahnya di dunia perfilman Hollywood saja masih sedikit. The Lincoln Lawyer adalah salah satu karyanya yang bagus dan bisa membangun suasana thrilling di setiap adegannya. Menjelaskan berbagai pengertian hukum dengan pembawaan yang pintar dan tidak terlalu rumit untuk di ikuti. Dengan adanya track record ini, 20th Century Fox pun mempercayai dirinya untuk mengarahkan film bertemakan perjudian

Runner Runner, film bertemakan perjudian online yang sedang di gandrungi oleh banyak orang di era ini. Premis cerita yang menarik memang, jika di bangun dan di garap sedemikian rupa hingga memiliki hasil akhir yang bagus. Tapi sayangnya, Runner Runner tak memiliki daya tariknya. Mungkin bintang-bintang besar di desain posternya yang bisa menarik minat penonton. Runner Runner bukan menjadi sebuah film bertema Perjudian yang bisa menjadi masterpiece


Runner Runner menjadi sebuah presentasi yang hanya terlihat sok pintar dalam penyajiannya. Karena Brad Furman masih terlihat kebingungan saat mengarahkan film ini. Banyak sekali cerita-cerita di film ini yang berusaha terlihat asyik tapi malah kelewat aneh dan tidak relevan dengan pikiran kita. Yap, Furman seperti ingin membuat film ini menjadi tricky. Tapi jatuhnya, film ini malah terlihat berantakan dan kebingungan saat menyajikan cerita-cerita yang seharusnya tricky itu.
 
Mungkin first act dari film ini intriguing bagi saya sebagai penontonnya. Berbagai informasi-informasinya tentang perjudian online itu di jelaskan dengan pace cerita yang pas hingga memberikan tensi yang bagus untuk penontonnya. First act yang intriguingjuga menurut saya masih kekurangan treatment. Banyak cerita-cerita yang membingungkan tentang back story dari sang tokoh utama sendiri. Ceritanya yang cukup acak dengan pace yang juga terlalu cepat. Tapi, itu mampu membangun tensi yang bagus.

Sayangnya, tensi yang sudah dibangun dan pace cerita itu tidak bisa dijaga dengan baik oleh Brad Furman. Cerita semakin melemah dan berantakan. Purpose utama sang tokoh pun seperti terabaikan dengan adanya side conflictyang cukup distracting. Tujuan utama itu di abaikan begitu saja di dalam Skrip garapan Brian Koppelman dan David Levien. Penyelesaian yang ala kadarnya. Tapi, malah merajut konflik klise di dalamnya. Tak menyelesaikan konflik awal yang seharusnya bisa menjadi konflik yang cukup menarik untuk film ini.
 
Runner Runner just a half-hearted movie making
Runner Runner melupakan berbagai potensinya menjadi sebuah film bagus. Banyak sekali celah bagi film ini yang bisa mengantarkan film ini akan terlihat benar-benar smart. Tapi sayangnya, ini jatuh menjadi sebuah film yang “ya sudahlah, mau gimana lagi?”. Tensinya yang semakin lama semakin mengendur. Belum lagi adegan-adegannya yang anti-klimaks. Serta penceritaan yang cukup kacau balau hingga membuat film berdurasi 90 menit ini melelahkan. Sebuah film yang dibuat dengan setengah-setengah. Melupakan Leonardo DiCaprio sebagai executive producer di film ini.

Jelas, Runner Runner adalah salah satu produk gagal tahun ini. Kefokusan filmnya yang kemana-mana. Berusaha terlihat pintar tapi malah menjadi sebuah bumerang bagi film arahan Brad Furman ini. Sayang, dia tidak mampu mengarahkan film ini se-thriling mungkin. Adegan-adegan yang di maksudkan untuk memberikan perasaan was-was bagi penontonnya juga berjalan hampa. Furman tak bisa mengarahkan film ini se-thrilling The Lincoln Lawyer. 

 

Film ini juga melupakan berbagai nama besar yang harusnya bisa dimanfaatkan. Nama-nama seperti Justin Timberlake, Ben Affleck, serta Gemma Arterton yang menjadi jualan utama di film ini. Justin Timberlake, bermain sebagai Richie tetapi dia bermain terlalu naif malah terkesan bodoh. Ben Affleck, mampu memerankan sosok Ivan Block yang antagonis. Tapi, dia terlihat seperti malas-malasan. Gemma Arterton, dia hanya pemanis yang lewat. Toh, screening time Gemma memang sangat sedikit.


Overall, Runner Runner adalah sebuah film dengan interesting premise tapi dengan berbagai treatmentnya yang sangat kurang. Directing serta Screenplay yang kurang digarap maksimal mengantarkan film ini menjadi gagal. Terlihat sok pintar dan sok asik tanpa adanya rasa thrilling yang harusnya bisa di selipkan di film ini. Poor.  

Subscribe to receive free email updates: