REVIEW - THE SMURFS 2

Diangkat dari sebuah karakter komik belgia yang sangat terkenal, Smurfs milik Peyo pun diangkat ke layar lebar. Raja Gosnell, pun ditunjuk selaku sutradara film The Smurfs live action ini. The Smurfs seri pertama pun sukses besar di tangga Box Office. Maka jelas ini adalah sebuah lampu hijau bagi Raja Gosnell untuk membawa karakter biru kecil itu untuk mendapatkan kesempatan keduanya tampil di layar lebar.



Smurfette (Katy Perry) sering dibayangi oleh masa-masa kelamnya. Karena Smurfette dulu adalah sosok buatan Gargamel (Hank Azaria), seorang penyihir jahat untuk mengelabui para smurfs dan diambil kekuatannya. Smurfette kala itu sedang berulang tahun dan para smurfs di desa sedang menyiapkan Pesta Kejutan untuk Smurfette. Ketika semua smurfs sedang sibuk, Smurfette pun menyendiri dan bertemu dengan Vexy (Christina Ricci).

Vexy adalah makhluk buatan Gargamel. Gargamel berniat mengambil kembali Smurfette untuk diperas kekuatannya. Melalui Vexy, akhirnya Smurfette berhasil diambil kembali oleh Gargamel. Akhirnya, Papa Smurf (Jonathan Smurfs), Clumsy (Anton Yelchin), Grouchy (George Lopez), dan Vanity (John Oliver) pun berusaha untuk menyelamatkan Smurfette. Mereka pun dibantu oleh Patrick (Neil Patrick Harris) serta Grace (Jayma Mays).

Amusing for Children under 5 years old.
The Smurfs? siapa yang tak kenal makhluk biru kecil nan menggemaskan milik Peyo, artis asal belgia ini. Karakter-karakter kecil ini jelas menjadi sebuah legenda bagi orang-orang yang masa kecilnya pernah menyukai karakter biru ini. Maka jika Smurfs diangkat di layar lebar jelas sebuah langkah yang bagus untuk memperkenalkan karakter biru dari tahun usang ini kepada anak-anak. Toh, Smurfs pun mempunyai design character yang cukup menggemaskan bagi anak-anak. 

Maka bersama dengan Raja Gosnell, Smurfs pun berhasil meraih mimpinya untuk tampil ke sebuah big screen dinaungi oleh Sony Animation Pictures. Ketika film seri pertama dirilis, Smurfs jelas bukan sebuah sajian yang sempurna. Malah bisa dibilang sajiannya jatuh. Tetapi, saya begitu menyukai seri pertama film ini. Even its not cup of my tea, setidaknya Smurfs seri pertama ini menghibur saya secara keseluruhan. Meskipun dibalut dengan berbagai kekonyolan serta konflik yang begitu cheesy serta karakter yang begitu komikal. Tetapi penggunaan format 3D nya yang efektif serta penampilan menggemaskan dari para Smurfs cukup menghibur saya kala itu.


Ketika tahu bahwa film ini berkelanjutan, saya sudah mulai khawatir. Jelas ini bukan berita yang bagus. Terutama, Smurfs seri pertama diberi kritikan pedas oleh para kritikus film diluar sana. Tapi sekali lagi ketika Box Office berbicara, maka seburuk apapun kualitas itu jika masih menghasilkan apa salahnya dicoba? mungkin bisa lebih baik. Mungkin hal seperti itulah yang berada di benak para movie maker Hollywood. Lampu hijau pun diberikan oleh Sony Pictures Animation. Raja Gosnell pun kembali mengarahkan film dari karakter biru kecil yang menggemaskan ini. 

Ketika Smurfs 2 dirilis dengan begitu percaya dirinya, toh semua orang juga sudah mulai memicingkan matanya. Meragukan kualitasnya. Begitu pula dengan saya. Tapi, mengingat smurfs pertama sudah bisa membuat saya terhibur. Mungkin seri keduanya juga akan melakukan hal yang demikian. Tapi, Smurfs 2 menurut saya hanya sekedar film yang akan membuat sosok anak-anak dibawah 5 Tahun yang akan menghibur mereka. Karena bagi saya, film ini jelas menganggu dan tak mempunyai hal yang bisa untuk dilebihkan.


Dengan durasi 100 menit, film ini tak jauh dari kata cliche dan kekanak-kanakan. Cerita memang tak jauh dari tema good meets evil and the winner always the good one. Tapi, Smurfs sepertinya masih bermain aman. Tema itu pun tak digunakan dengan baik. Tema seperti itu memang manjur bagi penonton anak-anak. But in a smart way, tema seperti itu juga bagus dinikmati oleh kalangan remaja hingga orang tua. Apalagi pakem cerita yang digunakan pun juga sama dengan film pertamanya. Bisa dibilang beberapa pakemnya masih mengulang formulanya di film pertama.

Begitu pula dengan jokes-nya yang begitu kekanak-kanakan di film ini. Menggunakan komedi slapstick yang cukup norak dan hanya beberapa momennya saja yang membuat saya setidaknya tersenyum ketika menyaksikan film ini. Bahkan komedi slapstick-nya pun tak jarang membuat penonton terdiam dan tidak tertawa. Bahkan anak kecil yang mudah tertawa dengan komedi yang cukup norak pun cukup menyaksikannya dengan diam. Mungkin hanya beberapa adegan dan beberapa orang yang menikmati adegan komedi di film ini. Raja Gosnell gagal dalam mengarahkan komedi-komedinya. Sayang sekali. 

Belum lagi, karakter-karakter manusianya yang cukup menganggu film ini. Mungkin, jika The Smurfs diarahkan ke sebuah film animasi murni tanpa ada kontak dengan manusia asli mungkin film ini bakal lebih bagus. Karena bisa dibilang, karakter manusia di film ini pun malah berkelakuan layaknya anak kecil. Karakternya begitu menganggu, komikal, dan bertingkah kekanak-kanakan. Mereka beberapa kali bertindak sangat konyol dan menggelikan. Mungkin untuk memberikan gimmick yang akan menghasilkan tawa. Tapi sayang, tidak sama sekali adegan yang bikin aku senyum berasal dari sosok manusia di film ini. 

Serta beberapa plot sampingan di film ini juga kurang memberikan nyawa. Malah terkesan diselipkan alih-alih untuk memberikan cerita yang padat dan heartwarming. Dan sekali lagi, subplot itu malah membuat kefokusan terbuyar. Ceritanya pun memaksa dan terasa begitu lelah untuk diikuti. Meskipun mengingat durasi film ini juga hanya 100 menit. Ukuran durasi standar untuk film anak-anak. Terlihat sekali Raja Gosnell kurang bisa mengarahkan semua plot-plot itu di dalam satu kesatuan film yang utuh. 
Smurfs 2 isn't that smurfgical
Smurfs 2 mungkin bisa menjadi sebuah Guilty Pleasure bagi saya jika tidak menggunakan pengulangan formula yang hampir sama di sekuelnya. Mungkin ini juga menjadi sebuah pelajaran Sony Pictures agar bisa memberikan sebuah drama keluarga yang lebih hangat dan menyenangkan dari film ini. Toh, Smurfs 2 tak bisa mengeluarkan smurfgical (re : magical) nya lagi di filmnya yang kedua. Jatuhnya hanya menjadi sebuah film senang-senang tanpa memberikan kualitas yang memadai. Belum lagi, Smurfs 2 pun flop di tangga Box Office. 

Smurfs 2 pun bisa dibilang the next Alvin And The Chipmunks. Jika hanya ada seri pertamanya saja mungkin akan menghibur. Tapi, jika akhirnya dipaksa untuk diadakan lagi seri-seri berikutnya. Well, itu akan melelahkan para penonton dan penikmat film dimana pun itu. Toh, mereka tak lagi bisa memberikan daya tarik yang luar biasa lagi. Malah akan lebih dicaci maki lagi jadinya. Maka dari itu, cukup lah bagi Sony Pictures untuk tidak mengembangkan lagi sekuel dari Smurfs di tahun mendatang. 


Cast-castnya  pun bermain ala kadarnya. Neil Patrick Harris, Jayma Mays sebagai sosok manusia di film ini pun bertingkah cukup kekanak-kanakan menurut saya. Belum lagi, Katy Perry yang mengisi suara Smurfette pun beberapa ke-tidak konsisten-nya cukup menganggu. Terkadang, dia tidak bisa memasuki sosok Smurfette. Suaranya terlihat sangat dibuat-buat. Syukurlah, masih ada beberapa karkater smurfs yang menggemaskan layaknya Vanity. Dan itulah yang membuat saya tertawa. Smurfs 2 pun masih dibanjiri soundtrack-soundtrack yang asik untuk menemani perjalanan film ini. Layaknya G.R.L - Vacation Serta lagu closing dari Britney Spears - Ooh La La yang cukup enak untuk didengarkan. 


Overall, The Smurfs 2 tak jauh dari kesan sekuel pengeruk uang tanpa memiliki kualitas yang memadai. Ceritanya cliche, dengan berbagai subplot yang menganggu benang merah film ini sendiri. Bukan drama keluarga yang cocok untuk dinikmati segala usia. Hanya pas untuk anak kecil berumur dibawah 5 tahun yang mungkin akan terhibur. So please, do not makes another sequel for this movie. 

Subscribe to receive free email updates: