REVIEW - The Possession

Di produseri oleh Sam Raimi, Ole Bornedal, sang sutradara mencoba mengangkat fenomena yang terjadi di keluarga amerika. The Possession menjadi film horror yang berdasarkan kisah nyata. Bagaimana dengan hasil film ini? Menyeramkan? atau hanya seperti horor bertema exorcism lainnya?

Menceritakan tentang Clyde dan Stephanie sepasang suami-istri yang bercerai. Mereka mempunyai 2 anak perempuan bernama Hannah dan Emily. Emily adalah yang termuda disini. Pada suatu hari, Emily dan Hannah pindah ke rumah Clyde. Saat perjalanan, ada Yard Sale disana menjual barang-barang bekas. Emily tertarik pada sebuah kotak kayu tua dan Clyde membelikan untuknya. Saat kotak itu dibuka, hal-hal aneh terjadi pada hidup mereka terutama Emily. Ternyata setelah diusut, Kotak itu berisikan Dibbuk yaitu seperti iblis yang masuk kedalam tubuh Emily. Berbagai cara dilakukan oleh Clyde untuk mengeluarkan iblis yang bersarang ditubuh Emily. Sehingga Emily bisa hidup normal kembali. Clyde mencari informasi kesana kemari hingga bertemu dengan Tzadok yang akan membantu Clyde mengeluarkan Iblis itu dari dalam tubuh Emily.
Sudah sangat lama sekali terakhir saya menonton film horror murni bukan slasher. Insidious menjadi film terakhir yang saya tonton dengan tema seperti ini. The Possession membangkitkan semangat saya untuk menonton film horror lagi. Bagaimana dengan ceritanya? Jika anda mengira film ini akan menawarkan sesuatu yang berbeda dari segi konsep cerita sebenarnya tidak bisa dikatakan berbeda juga. The Possession membuat naskah klise itu dengan gaya penceritaan modern yang sedikit diatas meski tak sepenuhnya bagus.  Entah kenapa naskah yang ditulis sangat lemah. Konsep yang akan diceritakan sudah memiliki konsep yang bagus. Terutama awal film ini yang benar-benar hambar dan membosankan. Latar belakang Dibbuk yang diceritakan dengan sangat singkat membuat saya masih bertanya-tanya apa yang menyebabkan kotak kayu tua itu berisikan sesosok iblis jahat. Hanya saja scene pembuka itu memberitahukan tentang bahayanya kotak itu dan siapa pemilik sebelumnya. Mungkin latar belakang kotak itu akan diceritakan ditengah-tengah. Tetapi tetap saja tidak dijelaskan lagi, malah Tzadok hanya menyalahkan jika kotak itu dibuka, hanya bilang kalau kotak itu berbahaya. Pace cerita di awal yang tidak fokus terhadap apa yang diceritakan membuat saya sedikit kebosanan. Suasana mencekam pun menurut saya kurang bisa ditampilkan dengan baik meskipun sebenarnya bisa diberikan lebih baik lagi. Ketika film ini berada di paruh akhir film. Ini adalah bagian terbaik dari The Possession. Sebuah klimaks, adegan kaget-kagetan tersebar dimana-mana seperti ranjau. Mengajak kita berhati-hati dan memacu adrenaline. Mungkin diawal hanya berfokus pada cerita masuknya roh di dalam tubuh si Emily meski cerita yang disampaikan kurang kuat dan kurang mencekam.

Masih ingatkah kalian dengan Insidious? Yah, ada beberapa scene di dalam film ini yang mengingatkanku pada Film Insidious. Scene saat Emily di foto di rumah sakit dengan lampu kedap-kedip? mengingatkan saya dengan scene Insidious dimana sang paranormal memasuki dunia astral. Lalu scene dimana emily lari ke dalam ruang mayat dengan latar berwarna merah? teringat dengan scene Insidious dimana Ayah si anak kecil yang masuk kedunia Astral dan bertemu dengan si wajah api dengan latar berwarna merah juga. Jangan lupakan hubungan Ayah-Anak yang kental dikedua film tersebut. Untuk masalah aktor-aktris, tak ada nama terkenal yang menghiasi film ini. Hanya Jeffrey Dean berperan sebagai Clyde yang saya tahu. Para cast disini bermain akting dengan standar dengan cukup meyakinkan terutama Natasha Calis yang berperan sebagai Emily. Natasha Calis benar-benar scene-stealer di film ini. Scoring film ini yang cukup bisa memberikan hawa yang menakutkan untuk film ini. Meski tak se-klasik Insidious tetapi setidaknya musiknya memberikan nyawa di film ini. Seharusnya Sam Raimi turun tangan langsung membuat film ini. Ingat dibenak kita Drag Me To Hell garapan Sam Raimi yang memberikan unsur horror yang seperti The Cabin In The Woods, menakutkan dan konyol bergabung jadi satu. Meski begitu Drag Me To Hell tidak membiarkan kita bernafas lega. Karena adegan selanjutnya akan lebih membuat kita tegang. Berbeda dengan The Possession yang memberikan alur lambat di awal dan tiba mempercepat cerita diparuh akhir film. Ole Bornedal kurang bisa membawa hawa fresh dan mencekam di film ini. Sehingga sajian horror yang seharusnya bisa lebih lagi malah tersandung karena kurangnya pengarahan dari sang sutradara.
Overall, The Possession bukan berarti menjadi sajian horror klise yang bisa dilewatkan begitu saja. Masih banyak unsur menegangkan yang bisa membuat kita orgasme terhadap scene yang menakutkan. The Possession menjadi cerita yang fresh di genre exorcism. 


Subscribe to receive free email updates: