EDGE OF TOMORROW (2014) REVIEW : BE QUIET. WATCH. REPEAT [WITH 3D REVIEW]


Musim panas tahun ini sedang mulai memanas. Di mulai dengan The Amazing Spider-Man 2 yang membuka musim panas dengan penuh mixed reviews, lalu X-Men Days of Future Past juga ikut andil dalam fim-film musim panas tahun ini. Film-film blockbuster musim panas memang terkenal dengan karya-karya yang megah dan murni hiburan. Meskipun, beberapa membawa sajian penuh hiburan, akan berdampak buruk dengan kelangsungan cerita dari sebuah film.


Untuk menyusul kesuksesan yang sudah diraih oleh dua film musim panas sebelumnya, Doug Liman bersama Tom Cruise pun bergabung dalam satu proyek. Proyek tersebut adalah Edge Of Tomorrow yang pada saat comic-con akan dirilis dengan judul All You Need Is Kill. Film ini diangkat dari buku dengan judul yang sama dengan judul awal film ini. Buku dari negara sakura ini ditulis oleh Hiroshi Kasurazaka dan dibeli hak ciptanya oleh Warner Bros dan Village Roadshow untuk diangkat ke layar lebar. 


Edge Of Tomorrow ini ber-genre science-fiction dengan mencampurkan unsur time loop di dalamnya. Edge Of Tomorrow terfokus pada sosok William Cage (Tom Cruise), seorang Mayor yang ditangkap dan diterjunkan langsung ke dalam sebuah perang. William Cage pun menjadi seorang prajurit untuk mengalahkan mimic, alien yang sedang menginvasi bumi. Hingga suatu ketika saat perang, William Cage terbunuh oleh sesosok mimic yang lebih besar yang disebut Alpha.

Ketika William Cage merasa dirinya telah mati, dia malah kembali ke kejadian sehari sebelum kematiannya. Itu dilakukan terus menerus hingga suatu ketika dia bertemu dengan Rita Vrataski (Emily Blunt) yang juga pernah mengalami kemampuan seperti itu sebelumnya saat perang di Verdun. Kemampuan William Cage digunakan untuk mengalahkan mimic dengan cara menghancurkan sang induk bernama Omega. 


The real definition of Summer Blockbuster movie.

Time looping dan semacamnya bukanlah hal yang baru di dalam genre science fiction terlebih di perfilman Hollywood. Banyak film sejenis yang menggunakan subplot yang bertemakan time looping untuk filmnya. Di tahun 2012, ada film milik Rian Johnsonyaitu Looper yang berhasil mendapat kritik pujian dari kritikus film. Yang memiliki premis mirip dengan Edge Of Tomorrow adalah Source Code milik Duncan Jones tetapi dengan fokus yang berbeda.

Maka, Doug Liman yang ditunjuk sebagai pengarah untuk Edge Of Tomorrow ini adalah pilihan yang tepat. Sutradara yang mengantarkan The Bourne Identity dan Mr. & Mrs. Smith ini berhasil menyatukan dua elemen berbeda dari filmnya terdahulu ke dalam film terbarunya ini. The Bourne Identity yang serius dipadukan dengan selera humor di film Mr. & Mrs. Smith dan dipresentasikan ke Edge of Tomorrow miliknya ini. Edge Of Tomorrow bisa menyandang predikat film musim panas terbaik di tahun ini sejauh ini. Dengan tagline-nya ‘Live. Die. Repeat.’ Menjadi tagline film paling asyik tahun ini begitu pun dengan filmnya.

Dan film ini juga bisa mewakili definisi dari summer blockbuster yang penuh dengan visual efek, ledakan, dan tentunya dengan cerita yang tidak di nomer duakan. Bagi pecinta genre science fiction, Edge Of Tomorrow akan berhasil merebut hati mereka. Pun begitu dengan penonton awam yang ingin menyaksikan aksi dengan alur cerita yang intriguing. Dengan alur yang looping ini, Doug Liman berhasil menjadikan Edge of Tomorrow penuh dengan kejutan menarik di dalam filmnya. Tepat rasanya jika Edge Of Tomorrow ini adalah sajian Popcorn movie yang berkelas. 


Christopher McQuarrie selaku penulis naskah, tahun lalu cukup berhasil mengantarkan Jack Reacher menjadi penuh misteri. Maka, kali ini Christopher McQuarrie berhasil mengadaptasi novel milik Hiroshi Sakurazaka dengan bantuan Jez Butterworth. Mereka berdua berhasil menata setiap detail cerita dari novel untuk diadaptasi di medium film. Cerita dengan subplot Time Looping memang memiliki cerita yang akan memusingkan penonton awam.

Tetapi, Bagaimana Christopher McQuarrie dengan gampang mengolah unsur time Looping di dalam film menjadi sajian yang mudah di cerna bagi setiap kalangan. Christopher McQuarrie menjadikan cerita Looping ini dengan penuh unsur fun dan tidak akan memusingkan penontonnya dan diolah dengan baik sehingga tidak jatuh berantakan. Tentu dengan eksekusi yang benar dari Doug Liman sehingga misteri-misteri di film ini berhasil ditutup dan memiliki puncak klimaks yang dengan gampang merebut hati penontonnya.



Dengan durasinya yang berkisar 110 menit, sang sutradara mengantarkan setiap menit di filmnya dengan rapi. Pace film ini pun memiliki tempo yang baik dan terjaga hingga akhir filmnya. Informasi yang diberikan kepada penontonnya terhadap dunia milik film ini pun dirangkum dengan singkat dan jelas untuk penontonnya. Tanpa perlu bertele-tele tetapi berhasil menjadikan film ini memiliki unsur thrills yang kuat di setiap menitnya.

Identik dengan film-film musim panas lainnya, Edge Of Tomorrow akan penuhi dengan ledakan bombastis. Visual efek dan representasi dari dunia post apocalyptic yang disajikan oleh Edge of Tomorrow pun digarap begitu megah. Terlebih ketika film ini dalam  format 3D, setiap visual efek itu akan memiliki pengaruh kuat untuk format 3D tersebut. Penonton awam yang mencari visual efek megah akan dengan gampang jatuh hati dengan film ini. 


Poin plus tentu datang dari cast dari film ini. Tom Cruise seperti biasa akan mencuri setiap spotlight dari film miliknya. Tetapi, Tom Cruise di sini tidak terlalu terlihat dominan seperti film-film miliknya terdahulu. Ada Emily Blunt, dengan paras cantik dan aura femme fatale dari dirinya yang juga akan dapat menyaingi Tom Cruise untuk mencuri spotlight film ini. Cukup dengan dua nama besar tetapi film ini mampu berjalan begitu prima dari awal hingga akhir film. 


Overall, Edge Of Tomorrow adalah kandidat film blockbuster musim panas terbaik tahun ini. Dengan segala visual efek yang megah dan cerita yang time looping yang menawan akan dengan gampang membuat penontonnya jatuh cinta. Segala aspek mulai dari sutradara, penulis naskah, dan dua nama besar di film ini berhasil memiliki harmonisasi yang baik sehingga popcorn movie ini menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar hiburan. So, BE QUITE. WATCH. REPEAT!


Edge of Tomorrow pun dirilis dalam format 3D. Berikut adalah review 3D film ini.

DEPTH
Kedalaman film ini begitu luar biasa. Penonton seperti menyaksikan film ini secara langsung di depan mata mereka.

POP OUT
Mungkin tak terlalu banyak efek ini. Tetapi sekalinya muncul, efek tersebut akan berinteraksi dengan baik dengan penontonnya. 


Edge Of Tomorrow memiliki visual efek megah yang ternyata bisa dimanfaatkan dengan efek 3D-nya yang mewah. Tentu, menonton film ini dalam format 3D adalah keharusan. Karena format 3D di film ini digarap dengan baik and yes it worth in every pennies spent.

Subscribe to receive free email updates: